Inspektur IV Kemenkes Tekankan Pentingnya Pengendalian Intern dan Manajemen Risiko bagi Perguruan Tinggi Kesehatan
Yogyakarta – Poltekkes Kemenkes Yogyakarta terus memperkuat tata kelola organisasi yang efektif, transparan, dan akuntabel melalui kegiatan Penguatan Sistem Pengendalian Intern (SPI) dan Penerapan Manajemen Risiko yang diselenggarakan pada Rabu (29/7/2026) di Ruang Nawasena, Gedung G Lantai 6. Kegiatan ini menghadirkan Inspektur IV Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan RI, Togu Sihombing, S.T., M.Si., CCIA., QGIA, sebagai narasumber dan diikuti oleh jajaran pimpinan, ketua jurusan, ketua program studi, kepala pusat, kepala unit, serta pejabat dan pegawai di lingkungan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
Dalam paparannya, Togu Sihombing menegaskan bahwa pengendalian intern bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat pengawasan, melainkan merupakan tanggung jawab seluruh unsur organisasi. Melalui penerapan konsep Three Lines Model, setiap unit kerja memiliki peran dalam membangun sistem pengendalian yang kuat, mulai dari pelaksanaan pengendalian di unit kerja, fungsi kepatuhan dan pengendalian intern, hingga pengawasan oleh aparat pengawas intern pemerintah. Pendekatan tersebut dilakukan melalui upaya pre-emptif, preventif, dan represif guna menjaga tata kelola organisasi yang sehat dan berintegritas.
Pada sesi manajemen risiko, peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya membedakan antara risiko dan masalah. Risiko dipahami sebagai dampak dari ketidakpastian terhadap pencapaian tujuan organisasi sehingga harus diidentifikasi sejak awal agar organisasi mampu melakukan langkah mitigasi sebelum permasalahan benar-benar terjadi. Pendekatan ini diharapkan mampu mengubah pola pikir organisasi dari yang bersifat reaktif menjadi proaktif dalam menghadapi berbagai tantangan.
Selain membahas aspek pengendalian intern dan manajemen risiko, narasumber juga mengingatkan pentingnya membangun budaya integritas dalam setiap aktivitas organisasi. Integritas dimulai dari perilaku individu, keberanian untuk saling mengingatkan ketika terjadi penyimpangan, hingga membangun tata kelola organisasi yang patuh terhadap regulasi serta berorientasi pada kepentingan publik. Menurutnya, pelanggaran besar sering kali berawal dari kebiasaan kecil yang dianggap biasa dan dibiarkan terus terjadi. Oleh karena itu, budaya organisasi harus dibangun di atas nilai kejujuran, kepatuhan, dan tanggung jawab bersama.
Pada akhir paparannya, Togu Sihombing menekankan bahwa risiko tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, namun dapat dikelola secara sistematis agar tujuan organisasi tetap tercapai. Kunci keberhasilan penerapan manajemen risiko terletak pada komitmen pimpinan, pembagian peran yang jelas, serta integrasi pengelolaan risiko ke dalam seluruh proses manajemen organisasi. Workshop ini diharapkan menjadi langkah berkelanjutan dalam memperkuat budaya sadar risiko di seluruh lini Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
Melalui kegiatan ini, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk terus membangun tata kelola perguruan tinggi yang unggul, akuntabel, adaptif, dan berintegritas. Penguatan Sistem Pengendalian Intern dan penerapan manajemen risiko diharapkan mampu mendukung pencapaian visi institusi sekaligus meningkatkan kualitas layanan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat secara berkelanjutan.
Kontributor : Tim Promosi